Tuesday, 20 January 2015

09:26 - 2 comments

"gadis hujan"

ia selalu melihatnya saat hujan.

"gadis hujan", disebutnya.

ia menyadari bahwa ia sangat berbeda dengannya.
ia sakit-sakitan, sementara sang gadis selalu keluar rumah saat turun hujan.
setidaknya begitu pikirnya.

suatu hari ia nekat melompat dari jendela kamarnya.
ia berlari mengejar gadis tersebut.
gadis itu menyambutnya dengan senyum.
mereka berlarian melawan arah angin.

semakin dilawan, semakin deras hujan membasahi tubuh mereka.
semakin deras, semakin hidup.

angin yang membawa hujan, begitu pula angin,
yang menghilangkan waktu di antara mereka.

ia ditemukan dalam keadaan basah kuyup, keesokan harinya.
tidak bernyawa, sayangnya.

angin yang membawa hujan pergi, begitu juga yang membawa deritanya pergi.


seluruh penduduk desa mengaku melihat bocah itu berlari,
sendirian.


***************************************************************************


PS : anyway for those who haven't watched PK (indian film), i suggest you to watch it.

Saturday, 17 January 2015

18:04 - No comments

Relatif.

Sebelum saya menutup 17 Januari 2015 ini, ijinkan saya menceritakan sebuah pengalaman sahabat saya terkasih.

---------------------------------

Tepatnya 1,5 tahun lalu sahabat saya (pria) mengenalkan pacar barunya kepada saya.
Yang perkenalan sampai masa penjajakannya tak begitu membutuhkan waktu lama hingga mereka akhirnya menjadi pasangan kekasih.

Saya masih ingat, si pria amat begitu menyayangi dan memanjakan kekasih dan pujaan hatinya ini.
Seringkali tiba-tiba si pria menelpon saya, dan menanyakan, hal-hal apa saja yang "sweet" untuk memenangkan hati seorang wanita.

Aaahhh... Indahnya masa-masa itu! Jujur, saya cukup senang, melihat si pria juga selalu sumringah dan menceritakan keriangan hatinya saat menjalani hari-hari dengan wanita pujaannya.

Namun akhir tahun 2013 kemarin, saat itu juga momen Natal, dan tentunya, si pria ingin memberikan hadiah natal kepada pasangannya.
Si pria sibuk sekali mencarikan kado yang pas untuk si wanita.
Tetapi semua hancur begitu saja, ternyata si wanita sudah memiliki calon suami.

"Gue dibohongin zra sama cewek sialan itu! Kampret!", si pria yang langsung menghubungi saya begitu tahu kalau ia hanya pelarian dari sebuah kejenuhan seorang wanita yang hanya ingin mengukur seberapa besar adrenalin yang dihasilkannya.

Siapa yang salah?
Siapa yang benar?

Siapa yang jahat?
Siapa yang menjadi korban?

Jawabannya satu,
Relatif.

Karena relatif memiliki nama lain,
"Tergantung kondisi."

----------------------------------

Seorang Public Lawyer (PNS, yang dibayar oleh pemerintah) kebanyakan membela terdakwa yang tak begitu punya uang untuk membayar pengacara mahal.
Ia berkata, "40 tahun aku menjadi seorang pengacara untuk rakyat miskin, tapi sampai saat ini, aku masih belum dapat membedakan mana terdakwa yang kubela itu, jujur ataupun berbohong."

Pembohong itu ada dimana-mana.
Berbohong itu dapat dilakukan kapan saja.
Membohongi yang mengasihimu pun dapat dengan mudah kau lakukan tanpa kau tahu kalau itu akan menyakitinya.

Karena kebohongan itu berbicara soal nurani. Nurani adalah tahu membedakan mana yang baik dan mana yang jahat.

Jadi, saat kau berbohong, sesungguhnya nurani mu pun sudah hilang.
Kau sudah tak tahu mana hal yang baik, dan mana hal yang jahat.
Kau sudah tak dapat membedakan kebaikan dan kejahatan.

Dan yang terpenting, kau sudah tak dapat membedakan mana orang yang mengasihimu dengan sepenuh hati, atau yang selalu memodusi hatimu berkali-kali.

Berbohong itu penuh banyak arti, tetapi satu yang saya sadari akhir-akhir ini.
Ia erat kaitannya dengan relatif.
Tidak ada parameter yang kuat mengenai kebohongan.

Salahkah?

Jahatkah?

Burukkah?

Ah. Lagi dan lagi ini bicara teori relatif kembali.

Karena sesungguhnya hidup bukan berwarna hitam atau putih.
Bukan bicara soal mana yang jahat dan mana yang baik.
Bukan lagi mencari siapa yang salah dan siapa yang benar.
Tetapi semua kembali kepada keberanian semua pihak untuk mengubah konteks masalah mereka sendiri.

Relatif.
Ya, relatif, saya cukup sadar, kalau hidup itu hanyalah relatif.

Yang mutlak,
hanyalah saya,
dan dunia saya sendiri.

Friday, 16 January 2015

09:13 - No comments

berawal dari sebuah lubang.

------------------------------------------------------------------------------


sebuah lubang yang dapat dibawa kemanapun itu, cukup menarik perhatianku.
padahal jelas sekali kalau itu hanyalah sebuah lubang biasa.
lubang yang banyak ditemukan di seluruh jagat raya,
bumi tepatnya.
kenikmatan.
ku akui bahwa lubang itu membawa nikmat bagi setiap petarung yang sejati.
kehidupan.
ku sadari bahwa lubang itu akan menciptakan sebuah kehidupan,
yang baru tentunya.
pengorbanan.
dan terakhir, ku pertaruhkan harga diri dan tanggung jawab ku,
hanya demi untuk memasuki lubang itu.
tidak. tidak.

ini bukan sekedar kenikmatan bagi seorang petarung yang haus akan kemenangan.
bukan pula sebuah kehidupan baru yang hanya ada aku dan kamu di sana.
dan tentu bukan juga sebatas pengorbanan dari sebagian diriku yang kecil ini.

lubang itu hanyalah lubang biasa.
lagi-lagi kukatakan lubang itu ada banyak dimana-mana.

tetapi,
lubang itulah yang membuatku sadar,
bahwa kenikmatan dan kehausan seorang petarung akan kemenangan tadi justru membawa sebuah kehidupan yang fana.
kehidupan yang tentu takkan kekal abadi.
dan lagi-lagi, saat semakin aku memasuki lubang itu,
ada sebuah harga yang kupertaruhkan.
harga yang paling mahal dari seluruh hal di galaksi bima sakti ini,
yaitu,
harga diriku sendiri.

ranahku semakin besar.
semakin kuat.
semakin kencang.
seluruh hormonku bergerak tak beraturan.
pikiran dan raga ku sudah tak sejalan lagi.
yang ada dalam hatiku,
yang ada dalam benakku,
ya hanya lubang itu.

lubang yang saat kau buka, hanya ada gelap yang kan kau rasa.
lubang yang saat kau buka, tak ada sesuatupun yang pernah kau lihat sebelumnya.

ya,
lubang itu sepele.

sepele bagi seorang Nobita.

"Lubang Pintu Kemana Saja."


----------------------------------------------------------------------------------------

terinspirasi dari Doraemon Movie, saat Nobita memaksa Doraemon untuk mengetahui bagaimana nasib masa depannya kelak.


tunggu. tunggu.

saya lamunkan hal ini beberapa saat setelah menuangkan coret-coretan tak bermakna ini.
ternyata bukan Pintu Kemana Saja yang kumaksud,

Mesin Waktu!!

ah payah, membedakan Pintu yang berwarna-warni dengan Laci Meja saja, saya tak lolos.

apalagi membedakan perasaan tulus dan sekedar modus? #random

Friday, 2 January 2015

13:22 - No comments

awry..

sering nggak sih kalian merasa "serba salah"??

pada dasarnya, manusia pasti merasa serba salah.

    mau muda.
    mau tua.
    mau kaya.
    mau miskin.
    mau bodoh.
    mau pintar.
    mau jujur.
    mau bohong.

semua serba salah.

tetapi, kekurangan kita sebagai manusia, yang sering kali,
merasa,

    muda.
    tua.
    kaya.
    miskin.
    bodoh.
    pintar.
    jujur.
    bohong.

ini lah yang selalu menyalahkan satu sama lain.

saat yang muda mengungkapkan perasaan hatinya, yang tua merasa itu kurang ajar.
saat yang kaya tak memberi sedikit dari rejekinya, yang miskin merasa itu tak berperasaan.
saat yang bodoh sedang belajar, yang pintar merasa itu hanya hal yang percuma.
saat yang jujur sedang berbicara, yang bohong merasa itu kata-kata pencitraan.

jadi,
kita,
sebagai manusia,
harus bagaimana?

apapun yang kita lakukan selalu salah di mata orang terkasih.
apapun yang kita katakan selalu dianggap menyakitkan di hati orang yang kita sayang.
Sudah..
Lupakan segala cerita..
Antara kita..
hanya melupakan lah yang dapat membuat kita keluar dari perasaan serba salah ini.

LUPAKAN!!
Ku tak ingin, ku tak ingin, ku tak ingin..
Kau terluka..
Karena cinta..
supaya tak ada lagi luka di antara kita, manusia.
karena sesungguhnya luka timbul dari sebuah cinta.

semakin kau cinta, maka akan semakin banyak luka.
namun, bukan berarti hal ini mengajarkan kita untuk berhenti mencinta.
ini hanyalah perkara kau harus mulai belajar untuk lupa.

karena pada dasarnya luka ada untuk menambah kekebalan tubuh manusia.
supaya kamu dan saya semakin kuat.
semakin tangguh.

jadi,
teruslah mencinta.
teruslah terluka.
tapi lagi-lagi, kau harus terus untuk melupakannya semua.
"the loss of memory isn't always the problem.
sometimes,
maybe even often,
it's the solution."
mungkin tepatnya pura-pura lupa. :)


*PS : Terinspirasi dari lirik lagu "SERBA SALAH" nya Raisa (penyanyi yang cantiknya pake banget itu)*

Sunday, 28 December 2014

16:07 - No comments

Terimakasih, 2014!

Tidak terasa, sudah hampir 365 hari saya menjalani kehidupan di tahun 2014 ini.
Ada banyak hal yang saya dapatkan, namun tak sedikit pula yang saya berikan.

Hari ini, di minggu sore, tepatnya minggu terakhir di 2014.
Saya belajar makna dari memaafkan dan dimaafkan.

Seringkali dalam setiap adegan kehidupan, terlebih waktu saya merasa banyak hal yang tak adil yang terjadi dalam diri ini.
Saat dibohongi.
Saat disakiti.
Saat dikecewakan.
Saat bersedih.
Saat merasa dirugikan.
Saya selalu mengharapkan mereka yang menjahati itu meminta maaf dan mengakui semua kesalahannya.
Lalu kemudian, semuanya selesai, dan kembali baik seperti sedia kala.

Tapi, taukah kau?
Kehidupan tak seenak yang kita harapkan.
Bahkan seringkali saya harus meminta maaf untuk kesalahan yang tidak saya lakukan.
Yang rasanya saya pikirkan untuk melakukannya saja, tidak pernah!

Namun meminta maaf, bukan untuk mereka yang butuh pengakuan kalau mereka benar, dan saya salah.
Meminta maaf hanya untuk diri saya sendiri, supaya saya semakin sadar, supaya saya semakin tau, kalau hidup itu tak bisa sendiri.
Sekalipun mereka seringkali menyakiti dan merugikan saya, ternyata mereka semua mendewasakan saya.

Sama halnya dengan saat saya dan kamu, memaafkan seseorang, bukan semata-mata karena mereka pantas dimaafkan, bukan karena saya dan kamu hebat untuk mengampuni seseorang.
Tetapi, supaya saya dan kamu, sadar, kalau kita tak dapat hidup sendirian.

Saat saya dan kamu, memaafkan mereka, sesungguhnya hal itu untuk diri kita sendiri,
demi kesehatan saya dan kamu.
demi rezeki kamu dan saya.
terlebih, demi kebahagiaan hidup kita semua.
Satu hal yang saya yakini di 2015 ini, saya berharap kamu, kita semua, mulai mengurangi perbuatan dan perkataan yang seringkali menyakiti hati orang lain, menyakiti orang yang kita kasihi, dan menyakiti orang yang mengasihi kita sepenuh hati.

Pasti, saya dan kamu, tau rasanya memaafkan, tau rasanya dimaafkan.
Jadi, mulailah menabur kebahagiaan, cinta dan kasih terhadap sahabatmu, keluargamu, bahkan musuhmu.
Agar suatu hari, kau akan menuai yang baik dalam hidupmu.

Saya akan tetap mengampuni orang yang bersalah terhadap diri dan hati ini.
Kamu akan tetap dengan murah hati mau merendahkan hatimu untuk meminta maaf, meski sebenarnya tak ada kesalahan yang kau perbuat.

Dan kita?

Kita semua mulai mengurangi perbuatan dan perkataan yang secara sadar maupun tak sadar, menyakiti hati orang-orang terkasih.

Terimakasih 2014,
kau mengajarkan banyak hal kepada diriku yang tak tau apa-apa ini.

Selamat datang 2015,
diriku yang penuh kekurangan ini siap untuk belajar banyak hal darimu.