Monday, 19 August 2019

13:31 - No comments

Es Kelapa Condet

Ijinkan aku bercerita tentang kejadian di September 2018, kejadian yang tak terlupakan, dikarenakan ada seseorang yang berbagi GPS di iPhone masing-masing (tak bermaksud promosi apel tergigit), sehingga kami bisa saling terkoneksi meski tak punya telepati, namun yakinlah kawan, jikalau kami sehati hahaha.

Begini kisahnya,

Aku salah memilih minuman. Banyaknya gaya kinetik yang kukeluarkan, dari subuh hingga hampir petang, suara dan keringat terbuang. Di pinggiran jalan, kulihat kelapa (yang kuanggap muda) itu menggiurkan!
Sluuurrrppp sluuuurrrppppp...
“Aaaahhh, kok keras!”, sentakku dalam hati.
Orang di depanku nyengir, menertawakan kebodohanku.
Aku salah pilih minuman.

Aku salah pilih minuman, yang kelihatan menyegarkan tapi justru tak melegakan.
Slurp slurp slurp....
Yang kusebut dahaga ini nyatanya hanyalah lapar mata.
Aku salah lagi pilih minuman.

Lagi-lagi aku salah pilih minuman, yang keliatan menyejukkan, namun berujung penyesalan.
Slurp slurp slurp...
Si penjual tak sengaja mencampur minyak gosok dari jemarinya ke es kelapa punyaku.
Ah... Lagi-lagi aku salah pilih minuman.

Entah dua kali atau tiga kali atau bahkan empat kali, ah tak terhitung berapa kali ku dengannya duduk berdampingan atau berhadapan, bahkan jalan berpegangan tangan sambil meminum minuman yang salah pilihan tadi, yang menurutku melepas bebanku, tapi malah melepas bebannya karena menertawakanku.

Lagi dan lagi aku kalah dengan pilihannya, dan sesal melanda dengan pilihanku. Tawanya riang, senyumnya girang, dan hatiku senang, karena ada sayang.

Tapi ada satu minuman yang tak salah kupilih, eh tapi dia sih yang memilih, tetapi tetap wanita tak mau kalah, jadi aku lah yang memilih hahaha. Es kelapa condet, harganya lebih murah dari minuman-minuman yang salah pilih tadi. Disuguhkan 2 kursi plastik yang menghadap ke jalan, karena berjualan di depan teras rumah sendiri. Aku menikmati es kelapa pilihannya, tapi aku lebih menikmati perasaan membuncah saat duduk berdampingan, tak perlu melihat karena khawatir akan pergi, karena memang tak akan kemana, karena ada maunya.

Bahagiaku sederhana, sesederhana salah pilih minuman, sesederhana merasakan minyak gosok penjual minuman, tapi di saat itu entah mengapa menjadi rumit.

Rumit, karena apa akan terjadi lagi? Sekedar membahas hal-hal konyol melihat warga condet lalu lalang di tengah teriknya surya.

Rumit, karena apa akan terulang kembali?
Sekedar tertawa menertawakan kebodohan satu sama lain, yang justru membuat aku dan dia semakin tahu kalau kami harus selalu bersama, karena saling membutuhkan, walaupun terkesan aku memaksa, tapi dia juga memerintahku untuk memaksanya. Jadi siapa yang berkuasa?

Thursday, 14 February 2019

11:38 - No comments

Thank God, I Found The GOOD in Goodbye :)

hari demi hari, minggu berganti bulan,
setiap tahun dan musim kami lalui bersama.
ada banyak yang membuat kami lelah,
tak sedikit pula tawa ria menghapusnya.
sering kami berjanji untuk tak mengeluarkan setetes air mata baginya,
namun ribuan kali kami melanggarnya.
lelah letih, pilu sendu, kami akui mereka sering menggerogoti pikiran kami.
dan apalagi bicara soal materi, tak terhitung nominalnya,
karena keluar seperti saluran air dekat di rumah kami yang mengalir deras,
apalagi pada saat hari-hari menuju Imlek.

hingga pada saat kekuatan supranatural itu datang,
yang entah darimana ia berasal,
selalu ada sukacita pelipur lara saat kami melihat kelakarnya sembari gigi-gigi besar itu keluar dari tempat persembunyiannya.
yang saat melihat senyum isengnya, tentu kami tahu kalau ia sengaja melakukannya,
namun justru membuat kami merasakan bukan lah dirinya kalau bukan jahil yang kadang membuat kami geregetan untuk mencubitnya dengan manja.

tak akan ada lagi yang memanggil kami hanya sekedar untuk mengganti channel televisi.

tak akan ada lagi yang meneriaki kami disertai nafsu makannya yang ingin jajan siomay, jajan bakso, jajan martabak, jajan nasi goreng, (seperti bukan jajan ya dek).

tak akan ada lagi yang membuat kami berhenti 10-15 menit untuk mampir melihat makanan yang diolah dengan pisang.

tak akan ada lagi yang mencandai kami dengan tawa khasnya yang membuat kami geli dan kadang membuyarkan fokus kami pada saat sedang serius.

tak akan ada lagi mata-mata nakal yang mengintipku pada saat keluar dari kamar mandi.

tidak akan ada lagi. tidak akan pernah lagi.

tidak akan muncul lagi.

tentu, ia tidak akan sakit lagi.
pasti, ia tidak akan menderita lagi.
dan kami yakin, ia tidak akan menangis lagi,
untuk dicarikan penyembuhan yang bisa membuatnya pulih kembali.

adekku sayang.
adekku malang.
sampai berjumpa di kemudian hari,
sampai bertemu kelak di Sorga nanti.


"Rest in Peace Rimbun"
-Oldie, 26 Januari 2019-

Wednesday, 12 September 2018

23:30 - No comments

Latihan Tidur (.)


Kelakar tawa menggelegar di Gereja, ya, tidak lain dan tidak bukan, 
satu-satunya sang empunya tawa tersebut adalah seorang pria dengan senyum lebar serta gigi tertata, 
dan itu saya tepatnya. 


Banyak hal yang tak mampu saya interpretasikan dengan kumpulan huruf, kumpulan kata, dan kumpulan kalimat, 
sehingga hanya mampu tertawa saja.

Tapi tahukah kalian, hal yang paling saya butuhkan bukanlah tertawa, melainkan tertidur? 
Teori tidur membutuhkan waktu sekitar 8 jam memang terbukti ampuh untuk memulihkan kepenatan dan kelelahan jasmani dan rohani manusia. 
Tetapi yang justru saya suka pada saat saya tertidur adalah pada saat detik-detik saya terbangun, 
karena pada saat itu, ada perasaan yang entah di awang ataupun keinginan yang berbau kenyataan, 
yaitu membayangkan adik-adik saya sembuh dari segala sakit yang sudah cukup lama membayangi hari-harinya, 
dan tentu hari-hari saya sebagai kakaknya.

Peristiwa dimana saya hendak bangun dari tidur, 
mengimplikasikan kalau apa yang kita rindukan dan minta, pasti akan Dia genapi.

“Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu”, — (Markus 11:24)

Terdengar klise memang, nampak klasik, teoritis dan sebagainya, 
namun itulah yang saya rasakan dan alami dalam kehidupan saya. 
Seringkali pada saat tertidur, 
kebanyakan kita memilih tak mau bangun lagi, 
karena dunia nyata lebih kejam dari dunia maya. 
Namun, Tuhan menjanjikan saya untuk berharap sesuatu yang pasti, 
meminta sesuatu yang saya inginkan, dan mencukupkan segala yang saya butuhkan, 
asalkan saya percaya dan mengandalkanNya dimanapun saya berada dan dalam kondisi apapun saya.

Khayalan mendapatkan telepon dari Mamak kalau adik-adik sudah bisa berlari, 
atau awang-awang dimana pada saat membuka pintu rumah melihat adik-adik sudah bisa berjalan dengan sehat sedia kala, 
atau bahkan pada saat saya bangun dari tidur, melihat adik-adik bersiap-siap berangkat ke sekolah, 
dan masih banyak hal lainnya yang saya dambakan seperti seseorang menghabiskan 8 jam dalam tidurnya, 
kemudian bersemangat bangun untuk meraih apa yang dicita-citakan seperti mimpi indah dalam tidurnya.

Bahkan sampai saat ini, seperti seorang yang tidur, kemudian bangun, lalu tidur lagi, 
kemudian bangun lagi, dan begitu terulang kembali peristiwa tidur dan bangun, 
moment bermimpi dan berharap, walaupun tak tahu kapan tergapai semua cita dan asa, 
tak akan memudarkan semangat saya untuk terus meminta, 
untuk terus berharap, 
untuk terus memohon di dalam doa, 
kalau suatu saat Tuhan dengar doa kakak yang begitu sayang pada adik-adiknya ini.

Tidurlah di waktu yang tepat, 
bermimpilah seindah-indahnya sambil berdoa, 
bangunlah dengan segera, 
dan raihlah janji-janji Tuhan yang senantiasa menyertai saya, kamu, dan kita semua.

“Bahwa sumber segala kisah ialah kasih.Bahwa ingin berawal dari angan.Bahwa ibu tak pernah kehilangan iba.Bahwa segala yang baik akan berbiak.Bahwa orang ramah tidak mudah marah.Bahwa seorang bintang harus tahan banting.Bahwa untuk menjadi gagah, kau harus gigih.Bahwa terlalu paham bisa berakibat hampa.”

Monday, 8 January 2018

00:25 - No comments

"Old History"

waktu berjalan tidak cepat, tidak juga lambat.

perlahan namun tidak terlalu pelan,
terkesan ngebut tapi tidak diburu-buru.



hampir dua belas bulan sepertinya, tempat singgah si gadis berkarya,
tak dikunjungi, tak pula semenit dua menit dibersihkan setiap debu dan sarang laba-laba yang bergantungan.

ada banyak kisah, banyak juga yang tak terjadi apa-apa.
sedih, bahagia, pilu, canda tawa, semua meluruh tak tersisa.

oh...

menyisakan makna penyesalan mengapa si gadis tega meninggalkan tempat persinggahan,
yang banyak orang justru disitu mengakui eksistensinya.

--

banyak orang menganalogikan penyesalan layaknya nasi berevolusi menjadi buih-buih bubur yang tak berspasi.
kenapa harus bubur?
dan kenapa dimulai dengan nasi?

juga penyesalan mengapa selalu diakhiri dengan ketidakgunaan dan ketidakharusan seseorang untuk menyesal.
lantas, mengapa, harus ada kata "penyesalan" di dunia yang tak terhingga perbendaharaan kata.

--

si gadis berusaha membersihkan debu-debu yang menebal layaknya polusi yang selalu hinggap di sudut metromini,
yang tak pernah dibersihkan sang kernet apalagi pengemudi.

pekat, abu-abu tua, kemudian lengket dan wajib disikat.

begitu juga dengan hatimu yang tak pernah disirami kasih yang tulus dan sejati,
ia akan berkerak seperti nasi gosong yang ada di panci hitam milik ibu.


dalam segala lelah yang membuatku cemas,
aku mengenalmu, sebagai sehela napas,
yang tak pernah ingin kulepas.

kira-kira singkatnya begini.

kau harus bahagia meskipun tidak denganku.
namun kau juga harus mengerti,
aku benci kalimat ini.

bila kau tak mencintaiku,pura-puralah mencintaiku.
berpura-puralah sampai..
sampai kau lupa,
bila kau sedang berpura-pura.


secarik kertas berisikan kata-kata penuh emosi yang sedari tadi diusap-usap oleh si gadis,
akhirnya dilipat kecil menjadi empat bagian.

dimasukkannya ke kantong depan baju kodok yang dipakainya.

melangkah keluar rumah dengan membawa segala perabot lama,
membersihkan seluruh sarang laba-laba dan keluarga besar mereka,
menyapu setiap pasir tertinggal,
mengelap setiap kelengketan-kelengketan yang terdapat di penjuru ruangan.


bersih. kosong. tentu siap dihuni.

karna dia tahu, bahwa ingatannya sudah kembali, dan tak bisa menerima kepura-puraan lagi.

yang baru akan datang, maka yang lama segera dibuang.


"Forget about what’s happened; don’t keep going over old history."

Saturday, 11 February 2017

17:15 - No comments

JANTUNG BERBULU

Jaman dahulu ada seorang penyihir muda tampan, berbakat, dan kaya raya. Ia melihat teman-temannya menjadi seperti orang bodoh hanya karena jatuh cinta, bahkan ada sampai kehilangan gairah hidup dan kehilangan harga diri mereka. Pemuda itu berhasrat tidak mau menunjukkan kelemahan macam itu sehingga dia menggunakan sihir hitam untuk mencegah dirinya jatuh cinta.
Tanpa disadari pemuda tersebut telah melangkah terlalu jauh, keluarga pemuda itu menertawakan usahanya menghindar dari cinta. Namun sang pemuda terlanjur bangga dan akan kepandaian serta kekuatannya untuk mengabaikan cinta. Ketika kedua orangtua penyihir itu meninggal dunia, dia sama sekali tidak merasakan kesedihan bahkan merasa terberkati karena kematian mereka. Sekarang ia seorang diri mengusai Kastil tersebut. Sang penyihir muda kemudian memindahkan kekayaan terhebatnya ke ruang bawah tanah.
Penyihir itu meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia pantas membuat orang lain iri karena kesendiriannya, hingga pada suatu hari sang penyihir mendengar pembicaraan dua pembantunya yang membuatnya sangat kecewa. Salah satunya menaruh kasihan padanya dengan kekayaan seperti sekarang ini belum juga mendapatkan seseorang yang dikasihi.
Pembantu lain menertawakannya karena dengan kekayaan seperti yang dimiliki penyihir muda saat ini tidak dapat menarik seseorang sebagai istrinya. Pembicaraan keduanya sangat menyakitkan hati sang penyihir. Kemudian ia memutuskan untuk mencari seorang istri, yang kemungkinan besar harus paling cantik agar orang-orang dapat mengaguminya, berasal dari keluarga penyihir yang sakti sehingga ia memiliki bakat yang sama seperti keluarganya, dan memiliki kekayaan setidaknya sama dengannya sehingga eksistensinya menjadi jelas.
Dibutuhkan waktu lama mendapatkan wanita sesuai dengan kriteria tersebut, namum sebuah keajaiban terjadi, satu hari setelah sang penyihir muda berketetapan mencari pendamping ia bertemu dengan seorang gadis penyihir yang kebetulan sedang mengunjungi keluarganya dilingkungan tersebut.
Wanita tersebut memiliki keahlian sihir yang mumpuni, memiliki kekayaan yang tidak dapat diragukan lagi serta kecantikannya membuat semua pria terpana, kecuali satu orang. Penyihir muda tidak merasa sedikitpun perasaan yang dimiliki orang lain.
Namun demikian ia menganggap gadis penyihir itu sebagai hadiah utama, penyihir laki-laki itu mengejarnya, meyakinkan semua orang yang dikenalnya bahwa ia telah berhasil merebut hati gadis tersebut. Tetapi gadis penyihir merasakan sikap kagum sekaligus aneh terhadap perhatian pemuda tersebut, ia merasakan sikap dingin dibalik kehangatan yang diperlihatkannya. Sang gadis tidak pernah bertemu dengan seorang pria yang begitu aneh. Keluarga gadis membesarkan hatinya bahwa mereka berdua adalah pasangan yang serasi dan menyatakan kesediaan mereka menerima undangan pesta yang akan diadakan di kastil sang pemuda.
Pada saat pesta diadakan, meja-meja dihiasi dengan perak dan emas, dilengkapi anggur terbaik yang pernah ada dan makanan yang lezat. Pemuda dan sang gadis duduk berdampingan dan pemuda tersebut membisikan syair-syair puisi yang ia sendiri sebenarnya tidak mengerti arti sesungguhnya. Sang gadis mendengarkan dengan seksama, dan akhirnya menjawab, “Engkau berbicara dengan baik, dan saya sangat senang atas perhatian yang diberikan hanya jika aku telah melihat hatimu!”
Sang pemuda tersenyum dan mengatakan tidak perlu khawatir akan masalah tersebut, kemudian ia membungkuk memberi salam hormat kemudian menuntun sang gadis mejauhi pesta tersebut menuju ruang bawah tanah yang terkunci tempat dia menyimpan rahasia terbesar miliknya. Disana pemuda menunjukkan sebuah kotak kristal, yang di dalamnya tersimpan sebentuk jantung yang berdetak.
Sudah lama sejak jantung tersebut terpisah dengan anggota tubuh yang lain, sudah tidak pernah memahami arti kecantikan, indahnya suara musik dan merasakan halusnya kulit. Sang gadis menjadi ketakutan melihat kenyataan tersebut, jantung tersebut telah menyusut dan ditutupi oleh bulu hitam dan panjang.
“Oh, apa yang telah engkau lakukan?” tanyanya. “Kembalikan itu ketempatnya semula, kumohon padamu!”
Sang pemuda melihat hal tersebut dapat menyenangkan hati sang gadis, kemudian ia mengayunkan tongkat sihir untuk membuka kotak kristal, membelah dadanya dan meletakkan jantung berbulu itu di tempatnya.
“Sekarang kau akan mengerti apa itu cinta sejati!”, sang gadis menangis sambil memeluk pemuda tersebut.
Sentuhan dari tangan putih lembut, suara nafas yang terdengar ditelinga, dan hawa yang keluar dari rambut emas sang gadis, semuanya laksana anak panah yang membangunkan jantung yang baru menyatu dengan tubuhnya tersebut. Jantung tersebut membesar dengan aneh seiring tarikan nafas pemuda. Buta dan liar dalam kegelapan tempat selama ini sang jantung bersemayam, dan hasrat menguat serta mulai melawan sang pemuda.
Para tamu undangan pesta mulai memperhatikan ketidak hadiran tuan rumah dan sang gadis. Awalnya mereka menganggap hal tersebut wajar, namun berjam-jam mereka mulai resah dan mencari-cari keduanya dikastil tersebut sampai akhirnya mereka menemukan ruang bawah tanah dan terlihat sang gadis terbujur kaku dilantai dengan dada robek terbuka.
Disampingnya mayat pemuda memegang jantung merah bersinar milik si gadis yang akan dimasukan kedalam dadanya. Tangan yang lain memegang tongkat sihir untuk mencabut jantung berbulu miliknya yang terus melawan tidak mau meninggalkan tubuhnya. Hal tersebut terjadi begitu cepat, sang pemuda akhirnya membuang tongkat sihir kemudian menyambar pisau perak dan mencabut jantungnya dari rongga dada agar ia tidak dikuasai jantung berbulu tersebut. Untuk beberapa saat dia berlutut penuh kemenangan dengan sebuah jantung di masing-masing tangannya. Sampai akhirnya terjatuh diatas mayat sang gadis dalam keadaan tak bernyawa.


**_*******

Thursday, 25 August 2016

14:17 - 2 comments

Kisah Tiga Bersaudara

Dahulu kala hidup tiga orang bersaudara, mereka melanglang buana, melewati tempat-tempat sepi dan termaram. Sampai suatu hari tibalah ketiga bersaudara di tepi sebuah sungai yang lebar dan dalam, sehingga terlalu berbahaya untuk dilewati dengan berjalan kaki ataupun terlalu lebar diseberangi dengan berenang. Meskipun demikian ketiganya merupakan penyihir yang mahir, hanya dengan melambaikan tongkat sihir terbentuk sebuah jembatan di hadapan mereka. 

Pada saat mereka sampai tengah jembatan, ketiganya dihalangi oleh mahluk berjubah. Ternyata mahluk tersebut adalah SANG KEMATIAN, ia marah karena merasa telah dicurangi oleh ketiganya. Biasanya orang-orang yang berniat menyeberangi sungai tersebut berakhir dengan tenggelam ke dasar sungai. Dengan licik ia berpura-pura memberikan selamat atas kemampuan sihir ketiganya, dan mengatakan tiap-tiap orang akan mendapatkan hadiah atas kehebatan mereka mengalahkan kematian. 

Sulung diantara mereka adalah seorang yang senang berduel, ia meminta sebuah tongkat sihir sakti yang pernah dibuat di muka bumi. Tongkat sihir tersebut harus selalu memberikan kemenangan bagi pemiliknya, sebuah tongkat yang pantas karena telah mengalahkan kematian! Sang kematian mendekati semacam pohon arbei liar yang terdapat dipinggir sungai, membuat sebuah tongkat sihir indah dari ranting pohon kemudian memberikan si Sulung tongkat tersebut. 

Anak kedua seorang yang sombong, berniat mempermalukan malaikat maut lebih jauh lagi, dan meminta kemampuan untuk menunda kematian. Sang kematian memungut sebuah batu dari dasar sungai yang deras tersebut, memberikan batu tersebut sambil berpesan batu tersebut mempunyai kemampuan untuk menghidupkan kembali orang yang telah meninggal dunia. 

Kematian bertanya kepada si bungsu apa yang ia inginkan. Bungsu dari tiga bersaudara ini adalah seorang yang rendah hati dan bijaksana, ia tidak percaya dengan niat tulus sang kematian. Si bungsu meminta sesuatu yang dapat membuatnya pergi melanjutkan perjalanan tanpa diikuti oleh kematian. Sang kematian dengan enggan (karena sudah berjanji sebelumnya akan mengabulkan apapun permintaan mereka) memberikan jubah gaib yang dimilikinya. 

Sang kematian menyingkir dan mempersilahkan mereka melanjutkan perjalanan. Ketiganya melanjutkan perjalanan sambil memperbincangkan kejadian yang baru mereka alami sambil mengagumi hadiah yang mereka dapat dari kematian. Sampai tiba saatnya ketiganya harus berpisah melanjutkan tujuan masing-masing. 

Sulung terus melanjutkan perjalanan lebih dari seminggu sampai akhirnya mendapati desa yang sangat jauh, mencari seseorang yang pernah bertengkar dengannya. Dengan tongkat pemberian dari Sang Kematian sebagai senjatanya, si sulung tidak akan kalah dalam pertarungan. Membiarkan lawannya yang mati tergeletak begitu saja diatas lantai. Kemudian ia menyewa sebuah losmen, di sana si sulung menyombongkan diri bahwa ia tidak mungkin kalah karena tongkat sihir miliknya merupakan hadiah sang kematian. 

Malamnya, seorang penyihir datang sambil mengendap-endap mendekati si sulung yang sedang tertidur dalam keadaan mabuk, penyihir tersebut menggorok lehernya kemudian mengambil tongkat sihir pemberian Sang Kematian tersebut. Dan kematian datang menghampiri, mengambil si sulung sebagai miliknya. 

Sementara itu, anak ke dua dari tiga bersaudara kembali kerumahnya dimana ia tinggal sendirian di sana. Kemudian ia mengeluarkan batu kebangkitan, diletakkan di atas telapak tangannya kemudian diputar tiga kali. Tiba-tiba bayangan wanita yang dulu pernah hampir dinikahinya muncul di hadapannya. 

Tetapi wanita pujaannya terlihat sedih dan dingin, seakan-akan ada sesuatu yang memisahkan mereka berdua. Sekalipun sang wanita hidup kembali, tetapi dunia ini bukanlah tempatnya dan terlihat sangat menderita. Sampai akhirnya anak kedua menjadi putus harapan, kemudian bunuh diri demi menyusul orang yang ia cintai. Dan kematian datang untuk anak kedua. 

Sang maut kemudian mencari si bungsu, bertahun-tahun mencari tanpa ada hasil. Ketika si bungsu sudah menjadi tua, ia melepas jubah pemberian malaikat maut dan menyerahkan jubah tersebut kepada anaknya. Si bungsu menyapa malaikat maut yang menemuinya dengan senang hati sebagaimana seseorang bertemu kawan lama. Malaikat maut dengan terus terang mengatakan bahwa posisi mereka seimbang dan si bungsu meninggal dengan tenang.

**_******* (#jk_r)

Thursday, 26 May 2016

17:08 - No comments

Tanda Tanya

kamu selalu berusaha diam.
tak berniat mengutarakan apa yang ada di pikiran.

kemudian kamu selalu berniatan tak nampak.
tidak berhasrat meraba apalagi menggenggam asa dan tujuan.

yang selalu ingin dimengerti, tapi tak seorang pun yang mengingat.
yang berharap dikasihani, namun apa daya semua sibuk dengan dunianya sendiri.


bahkan sebutir pasir di ujung pulau pun nampak putih.
tapi kamu tak terlihat, walau jelas-jelas bayanganmu ada di pelupuk mata sang pengamat.

angin yang tak berwujud mempunyai peran dalam sebuah ekosistem,
lalu dimanakah maknamu?
bahkan sampah pun dapat didaur ulang untuk sebuah kebaikan.

Maha Agung menciptakan tiga jenis mahkluk hidup dan ribuan yang tak bernyawa.
bukankah itu semua saling berkesinambungan untuk sebuah kondisi yang sempurna?

malam selalu menjadi kawan sejati bagi si pecinta sepi,
tapi kamu tidak menyukai keheningan.
karena keberadaanmu hadir di saat semua hal berbising.

kopi sering dikaitkan bagi para pemikir yang ingin bersuara,
namun kamu tidak punya rasa setitik walau hanya untuk menentukan bagaimana identitasnya.

setetes air akan berubah pengertian ketika mereka berkawan dengan sesama.
kawanan gerimis yang sering kamu sebut hujan itu pun dapat membuat hati seorang gadis di ujung sana bergemuruh.
namun diam dan dinginmu mengapa.

kamu bukan warga bulan yang kehidupannya menjadi pertanyaan semua orang.
kamu juga bukan saksi teroris yang keberadaannya dikaitkan dengan kekhawatiran semata.
dan kamu tentunya bukan hantu yang kisahnya membuat gadis bernama Retno itu penasaran.

sampai saat ini yang paling pas menggambarkanmu hanyalah sebuah tanda tanya.
tanda tanya yang tak akan pernah bermakna tanpa ada sebuah pertanyaan.
tanda tanya yang tak akan bisa hilang jika belum dijawab.




kamu adalah tanda tanya bagiku—si masa lalu.
karena dalam diam dan dingin, aku selalu mengetuk pintu.
menikmati rekaman yang jelas-jelas tak pantas dikenang.
mendengarkan nyanyian berbau kematian.
kemudian berusaha bernafas di tengkuk, walau tinggimu tak mampu kujangkau.

kamu hanyalah tanda tanya dalam hidupku—si masa lalu.
karena lewat rangkaian aksaramu, aku sadar,
kalau otak kananmu masih menyediakan sedikit ruang tentangku.

Wednesday, 18 May 2016

14:46 - 4 comments

bunga tidur si anak manja

semua pertanyaan selalu berjodoh dengan jawaban.
dan untuk keduanya bertemu, yang dibutuhkan cuma waktu.

aku bukan lagi kau.
dan kau tidak lagi menjadi aku.

ratusan pompa sudah dibeli demi menghisap dan menelan bulat-bulat segala yang ada.
jutaan tawa berkelakar kuat berusaha agar tak ingat kembali pulang.
dan triliunan kata demi kata keluar dari bibir yang bercampurkan rasa garam.

wadah sudah penuh, kemudian tumpah, dan bahkan menyesak, memaksa untuk meledak.

petromaks tak lagi bersinar karena minyak tanahmu sudah sekarat.
tetapi pikiranmu terus mengalir ribuan watt, untuk mencari ketenangan yang kau sebut abadi.

bangunlah, sadarlah, kita sudah terpisah antar dua dunia.
dunia imajinasi dimana hanya kita yang cipta dan rasa tiba-tiba terendam tsunami peluhmu.

tak ada kau, tak ada aku, dan tak akan ada kita.


perlahan genangan berubah menjadi aliran, mendadak kencang dan kuat.
dan wadah itu pecah, hancur, tak tersisa.

bayi mungil berteriak manja untuk membayar perhatian bunda.
hati ibu mana yang rela bagian dari hidupnya menangis meronta.

habis energi milikmu dan milikku menata ulang sarana kita berkarya.
tak ada satupun rangkaian huruf yang dapat menginterpretasikan rasa itu.

pulanglah, kembali ke gubuk yang terkasih.
selalu ada yang menunggu bau keringatmu di bilik pintu.

sesakmu di dadaku, piluku di kerongkonganmu, semua bercampur satu.
di saat kau membayangkanku meninggalkanmu, kemudian merangkak ke pangkuan sang Khalik.
karena benar maupun salah, suka tak suka, dituruti atau tidak dituruti,
pada akhirnya yang bisa membuktikan cuma waktu.

tenanglah hai pemuda pencari cinta dan penyayang dunia.
bersyukurlah, bergembira dan bersorak-sorailah, karna ini semua hanya bunga tidur semata.



----------------------------------------



#anaknyaabismimpiinemaknyameninggalmasa #pukpukpuk #mimpimeninggalartinyapanjangumurkok

Tuesday, 16 February 2016

15:09 - 5 comments

"PINOCCHIO"


Awalnya bagiku bohong punya 2 alasan,
alasan pertama ingin menutupi keadaan kondisi yang sebenarnya,
dan yang kedua, ingin dianggap unggul oleh sesama.
Ya, kedua alasan tadi kupakai untuk mengada-adakan sesuatu yang tidak ada.
Melebih-lebihkan yang kecil menjadi besar, bahkan kadang besarnya melebihi idealisme mahasiswa.

Entah mengapa menurutku bohong tidaklah salah, walau kutahu pasti ia bagian dari dosa.
Seringkali diriku tanpa sadar memaklumi kebohongan-kebohongan kecil, yang besarannya masih masuk nalar logika sahabat-sahabatku.
Ketika besarannya melampaui batasan, kemudian secara sadar aku berbohong (lagi dan lagi),
100% keyakinanku berkata para sahabat sudah jelas dapat menilai mana yang benar dan mana yang fiktif belaka.

Semakin lama kurenungkan, jangan-jangan keberadaanku tumbuh dari tumpukan dusta yang kubuat.
Hidupku yang justru unik dengan segala kekurangannya, tenggelam dengan kisah-kisah kebohonganku semata.
Dan sahabat-sahabatku pun perlahan mulai menjauh, melindungi dirinya masing-masing karena takut bergaul denganku. Ya mana ada orang yang tahan berdampingan dengan pembual sepertiku.
Dapat disimpulkan kedua alasan tadi masih belum cukup menyadarkanku bahwa berbohong adalah kesalahan yang fatal.

Namun pada akhirnya setelah sekian lama, aku menemukan alasan yang ketiga.
Dan alasan terakhir inilah yang konsekuensinya (akhirnya) dapat mengubahkan diriku.
Selalu merasa tak percaya dengan setiap orang, dan hal tersebut yang cukup memberikan rasa sakit di hati.
Aku tak bisa membedakan mana yang fakta dan mana yang fiksi.
Aku juga tak bisa membedakan antara khayalan dan kenyataan.
Kemudian yang paling parah di antara yang terparah dari alasan yang ketiga ini adalah,

aku tak tahu siapa yang tulus dan siapa yang hanya sekedar modus.

“The liar's punishment is, not in the least that he is not believed, but that he cannot believe anyone else.” ― George Bernard ShawThe Quintessence of Ibsenism

Monday, 15 February 2016

16:19 - No comments

Bukan Valentine Sebenarnya

“tuuuttttt…tuttttt…ngiiinnggggg…tuutttttt…kleeengggg..”
“tuuuttttt…tuttttt…ngiiinnggggg…tuutttttt…kleeengggg..”
lagi-lagi diriku terbangun demi dentuman kencang kereta api yang selalu muncul di waktu tidur.

refleks dua lobang hidung besar ini mencari-cari oksigen yang menurutku entah mengapa tiba-tiba hilang mendadak.
“hhuuuuhhhh..haaaahhhh..fiuuuhhhh..”
kuhisap dalam-dalam 86% karbondioksida, dan membuangnya disertai peluh beban yang selalu muncul di setiap malam.

tiba-tiba rasa air laut jatuh dari kedua kelopak mata, entah itu air kesedihan, atau air keletihan.
yang jelas sesakku semakin penuh saat nampak kalender kusam bertanggalkan 14 Februari.

ketika keakuanku yang selalu minta disadari sahabat karib dulu.
saat dengan mudahnya aku mengada-adakan berbagai hal, walau mereka tak pernah mengharapkan apapun.
di saat naluriku yang selalu ingin unggul, dan menjadi kebanggaan di hadapan teman sepermainan.
dan secara gamblang pula kuteriakkan keras-keras biar seantero jagat tau, jika aku hebat.

14 Februari menjadi pengingat seumur hidup, bahwa setengah jiwaku pergi.
pujian semu yang kubuat, lenyap ditelan bunyi sirine ambulans.
prestasi belaka yang kupelihara, tenggelam bersamaan lautan manusia yang mengasihani.
dan yang terutama, kebohongan yang kuciptakan semakin runtuh dihantam kereta api.

ya..
istriku meninggal di tempat, dengan sepeda tua peninggalan ayah mertuaku.

tapi tunggu..
bukan hanya tulang rusuk saja yang berlalu dan tak kembali.
martabat, sahabat, dan yang paling penting,
keberadaanku pun hilang di balik nestapa sang jeruji.

ya..
aku terpenjara dengan semua misteri yang kukarang.
pengalaman kecil standar Upah Minimum Regional melesat jauh bagai supernova.
selanjutnya sepeda ayah yang sekejap berubah menjadi alphard,
semata-mata hasil karya mulutku yang bermodalkan kata-kata maya belaka.

bukan salah masinis yang tak sanggup menarik rem nya,
juga bukan penjaga palang kereta yang lupa menghentikan laju sang cinta,
dan tentu bukan pula lemahnya seruan sewot sekumpulan pemirsa.

surya berdentum kencang sebagai penentu waktu bisu ciptaan Khalik.
rel kereta api kemayoran dalam diam menjadi saksi Izrail menjemput penopang jagoan kecil.
dan yang terakhir, takdir menghantarkan diriku kepada bara api kekal abadi.

demi semesta dan jagat raya, aku lega.
karena tak ada dahaga kebanggaan lagi yang tersimpan di dada.
harapan satu-satunya kuletakkan di bahu pria mungil, si jagoan kecil.
entah bagaimana hari esoknya, yang jelas moralnya takkan terbentuk menjadi pendusta.
tak akan pernah menjadi punuk yang selalu mengada-adakan si bulan.

dan tentu, keberadaannya bukanlah sebuah kebohongan semata.

Wednesday, 20 January 2016

16:48 - No comments

Bandung Lautan Api (Asmara)

24 Maret 1946, istilah "Bandoeng Laoetan Api” lahir dari kaum militer bangsa Indonesia, yang saat itu dipimpin oleh Kolonel A.H. Nasution

dan nyatanya 24 Maret 2015, istilah tersebut juga hadir di hidup Gems,
gadis yang paling polos di asrama kampus para perawat di desa kami.
Desa Sarimarga, yaitu desa dimana para pahlawan bersemayam dan menyiapkan strategi melemahkan serangan penjajah tempo dulu, pada saat itu Belanda.
desa kecil di ujung Provinsi Jawa Barat, yang berbatasan dengan Ibukota Jakarta.

dari antara semua penghuni asrama perawat,
satu-satunya hanya Gems yang belum pernah berpacaran.
padahal Gems memiliki paras yang enak dilihat, ramah pembawaannya, dan bentuk tubuh yang ideal.
entah mengapa, ia merasa tak pernah ada satupun pria yang mendekatinya.

mungkin karena Gems teramat polos, sehingga tak ada pria yang mau mendekatinya.
sesuatu yang seharusnya direspon dengan serius, Gems malah menganggap lelucon.
hal yang sewajarnya ditertawakan, Gems malah bersikap marah dan merasa kalau itu celaan dan tidak sopan.

begitu juga dengan pelajaran Sejarah kemarin siang sehabis istirahat.
ketika Rian membuat sebuah guyonan dari istilah Bandung Lautan Api menjadi Bandung Lautan Api Asmara.
Gems berpikir Rian brilliant, dan ia merasa bahwa Bandung akan mengubah garis hidupnya.

akhir minggu, dengan berbekal modal nekat dan uang seadanya, ia pergi meninggalkan asrama.
Gems mencari apa yang selama ini teman-temannya bicarakan.
menemukan hal yang selalu membuatnya penasaran, apa itu asmara.

ia pergi dengan travel dari Pom Bensin perbatasan desa kami menuju Cihampelas Bandung.
padahal tak tahu tempat yang ingin dituju, Gems merasa kepergiannya kali ini membawa berkah.
sepanjang perjalanan, di samping jendela, tak henti-hentinya ia memekarkan senyuman, sembari melihat yang baginya pemandangan yang indah, padahal hanya barisan mobil yang mengantri menuju pintu loket tol menuju kota Bandung.

Gems semakin bersemangat sampai akhirnya ia sampai di salah satu Mall ternama, Ciwalk.
perlahan berjalan menyusuri setiap lantai, tak menemukan tanda-tanda asmara.
masih belum patah semangat, Gems beralih menuju Dusun Bambu, Lembang.
suasana yang sejuk hampir dingin tepatnya, namun tak kunjung nampak yang ia cari.
pergi ke Alun-alun Bandung pun yang terlihat banyak para pemuda dan pemudi, tetap saja Gems merasa ini bukan tempat yang melahirkan asmara di hatinya.

sampai akhirnya, 3 hari pencarian Gems, ia memutuskan untuk pulang kembali ke asalnya, Desa Sarimarga.
mungkin predikat mahasiwi terpolos 2015, 2016, 2017, dan 2000 sekian-sekian, akan terus melekat dengan sosoknya.
nampak Gems lemas sepanjang perjalanan menuju travel kepulangannya di Cihampelas.
dan ia memilih duduk di barisan belakang, tepatnya di bagian tengah dan bukan di dekat jendela, karena baginya Bandung bukan lautan asmara seperti yang Rian bilang, sehingga tak penting lagi untuknya sekedar melihat pemandangan asrinya Kota Bandung.

Gems tak sadar, ada seorang pria yang menuju ke arahnya.
ia asik dengan lamunannya dan gerutuan di dalam pikiran dan hatinya.
Pria tersebut duduk persis di sebelah Gems, karena Gems memang tak beranjak untuk bergeser menuju jendela.
pelan-pelan pria di sampingnya memegang tangan Gems, namun masih saja ia tak sadar, dan terus berkutat dengan ekspektasinya akan Bandung Lautan Asmara.
sedikit demi sedikit, Gems tertidur lelap, dengan posisi tangannya yang saling berpegangan dengan pria di sebelahnya.

sampai pada akhirnya travel berhenti di Pom Bensin tempat Gems meninggalkan Desa Sarimarga dalam 4 hari lamanya.
Gems terbangun, dan ia melihat ada seseorang di sampingnya yang sedang erat memegang tangannya.

“Rian?”, ucapnya.

pria yang selama ini dekat dengannya, selalu menunjukan lagu-lagu ciptaannya.
pria yang tak pernah berhenti meledek dan mengerjai Gems, namun yang juga selalu mengkhawatirkan kepolosan Gems.
baginya, hanya ia yang boleh menikmati keluguan Gems semata.
dan Rian pula yang menciptakan guyonan Bandung Lautan Api Asmara.

sembari mengucek mata dan setengah sadar,
pria yang memegangi tangan Gems itu pun bangun dari tidurnya.
dan sontak kaget kemudian buru-buru melepaskan genggamannya dari Gems.

ternyata Rian ada dalam 4 hari perjalanan Gems ke Bandung, namun Gems tak menyadarinya.
wajah sendu Gems nampak seketika itu juga.
pencariannya akhirnya ditemukan, di akhir perjalanannya pulang dari Bandung yang dinilai sia-sia.
karena tak perlu jauh-jauh ke Cihampelas dan sebagainya, bahwa di Desa Sarimarga pun nyatanya ada.

“Rian rian!”, terdengar suara yang memanggil Rian dari luar bis travel.
Gems pun ikut melihat ke arah suara tersebut, dan sudah tau siapa pemiliknya.

“Aku disini Nan..”, ucap Rian.
sembari menggengam tangan Gems, mereka berdua beranjak dari kursi.



ya, Nancy, kekasih Rian,
dan kakakku satu-satunya.

Wednesday, 4 November 2015

18:41 - 2 comments

Masa Lalu (Milan Kundera)

masa lalu yang gagah, dan dipuja banyak Hawa.
berbuah manis seperti ucapan Adam.

masa lalu yang dirindukan, dan sempat memberikan ketenangan.
berlaku santun dan menyejukkan.

masa lalu yang membuatku selalu bangga pada diriku sendiri.
yang orang tak sangka seorang aku punya masa lalu seperti seorang kamu.

masa lalu yang menjadikanku pujangga dua tahun belakangan,
karena memberi luka juga penangkal rasa perih.

masa lalu yang secara alamiah,
justru banyak memberikan ketangguhan dan kebajikan jiwa bagi seorang penunggang kuda dengan kasta terendah di jagat raya,
kemudian menaikkan derajatnya dari Sudra menjadi Ksatria.

paling tidak, masa lalu yang kutahu, memberikanku makna, bahwa rindu tak berarti pilu.
pengertian kalau kangen tak melulu galau,
dan arti bahwa benci bukan selalu tak peduli.

aku merindukanmu seperti kobaran api yang merindukan siraman bensin,
agar bisa membakar lebih banyak lagi.

aku merindukanmu seperti anak kunci yang merindukan lubang pintu.

aku merindukanmu seperti luka menganga yang merindukan perban dan alkohol.

aku merindukanmu seperti payung yang merindukan hujan.

aku merindukanmu seperti pekerja yang merindukan akhir pekan.

maaf karena aku selalu benci,
padahal ada banyak ingatan baik yang kau cipta dan berikan untukku.

dan pada akhirnya secara sadar aku selalu bernostalgia,
saat dimana penderitaan hadir karena kerinduan yang tak habis-habisnya untuk kembali kepadamu.

maafkan aku karena selalu rindu,
walau ku yakin tak sedetik pun kau mengingat tentangku.

dan pada akhirnya batinku akan melonjak penuh sukacita,
dengan begitu aku akan puas dengan kebahagiaanku semata.

terimakasih banyak untukmu,
masa laluku,
ya.. itu.. kamu.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

karena kebahagiaan hanyalah kerinduan akan sesuatu yang pernah terjadi di masa lalu.

Happiness is the longing for repetition.

The Greek word for return is "nostos", "algos" means suffering.
So, nostalgia is the suffering caused by an unappeased yearning to return.

(Milan, Kundera)

Tuesday, 6 October 2015

14:51 - No comments

생일 축하 합니다 (saengil chukha hamnida)

Aku sedang menebak-nebak,
kira-kira prosesi apa yang tengah kamu siapkan.
kamu selalu tergila-gila berprosesi.
segala sesuatu harus dihantarkan dengan sempurna dan terencana.
perayaan dan peringatan menyesaki kalender kita sepanjang tahun,
dan tidak pernah kamu bosan,
bahkan kamu semakin ahli.
malam ini kamu menantangku berhitung dengan stop-watch.
teleponku akan berdering tepat setengah jam lagi.
sesungguhnya, kamu sudah sehebat itu.
janjimu adalah matahariku yang terbit dan terbenam tanpa pernah keliru. 

Sambil menunggu, izinkan aku berkelakar mengenai kamu dan sayap.
sejak kepindahanku ke negara lain,
kamu terobsesi dengan segala makhluk bersayap.
kamu percaya bahwa manusia bersayap adalah hibrida termulia,
di atas manusia bersirip dan berinsang.
aku ingin percaya kamu cukup cerdas untuk tidak mencoba terbang kemari.
kalaupun itu bisa terjadi,
aku khawatir kamu mati lemas di jalan lalu jatuh ke laut.
dimakan hiu.
dan jadilah kalian hibrida yang luar biasa.
manusia bersayap di dalam perut mahluk bersirip berinsang. 

Dengan caramu mengagungkan momentum,
kamu membuatku ikut percaya betapa sakralnya peluk cium 14 Februari atau tiupan terompet tahun baru yang jatuh tepat pada hitungan 00:00.
kamu membuatku percaya ada poin tambahan jika memperlakukan hidup seperti arena balap lari.
namun imanku pada arena itu luruh dalam satu malam karena kegagalanmu mencapai garis finish.
lihatlah detik itu, jarum jam itu, momentum yang tak lagi berarti di detik pertama kamu gagal mengucapkan apa yang harusnya kamu ucapkan…
lima menit yang lalu...

Aku tidak tahu kemalangan jenis apa yang menimpa kamu,
tapi aku ingin percaya ada insiden yang cukup dahsyat di dunia serba selular ini hingga kamu tidak bisa menghubungiku.
mungkinkah matahari lupa ingatan lalu keasyikan terbenam atau terlambat terbit?
bahkan kiamat pun hanya bicara soal arah yang terbalik,
bukan soal perubahan jadwal.
atau mungkinkah ini akan jadi salah satu tanda kiamat kecil yang orang ramai gunjingkan,
tentang lelaki berbaju perempuan,
perempuan berbaju lelaki,
lelaki bercinta dengan lelaki,
dan perempuan bercinta dengan perempuan,
dan kalau mereka mau menengok sejarah manusia ribuan tahun terakhir ini,
tidakkah tanda semacam itu sudah apkir, klise, dan kiamat harus menyiapkan tanda-tanda baru bila masih ingin jadi hari yang paling diantisipasi,
dengan misalnya,
mengadopsi absurditas yang terjadi malam ini?
malam di mana kamu terlambat mengucapkan apa yang seharusnya kamu ucapkan... satu jam yang lalu...

Satu waktu nanti,
saat kamu berhenti percaya manusia bisa punya sayap selain lempeng besi yang didorong mesin jet,
saat kamu berhenti percaya hidup lebih bermakna bila ada wasit menyalakkan aba-aba "1,2,3”,
kamu boleh terus percaya bahwa kemarin …
besok …
lusa …
dan hari-hari sesudah itu…
aku masih di sini.
menunggu kamu mengucapkan apa yang harusnya kamu ucapkan…
berjam-jam yang lalu:

"Selamat Ulang Tahun, suryADI”, teriakku dalam hati.


****_*******

Tuesday, 29 September 2015

14:22 - No comments

k.a.k.t.u.s

bagi sebagian orang,
kaktus hanyalah tanaman yang durinya menusuk jari.

bahkan identitas kaktus erat kaitannya dengan gurun pasir yang panas.

ada juga yang beranggapan,
kaktus tak perlu diurus.
karna dengan sendirinya ia dapat tumbuh tanpa disiram dan diberi pupuk.

rupa kaktus yang tak begitu menawan,
membuatnya jarang diperhatikan di kalangan wanita pencinta tanaman.

berwarna hijau kegelap-gelapan.

bertubuh gemuk dan kadang agak sedikit bantet.

dan tentunya durinya yang tak bisa termaafkan.

mengapa kaktus tak seperti mawar yang sering dijadikan hiasan dan dapat mempercantik segala hal,
dan bahkan dijadikan simbol cinta bagi kebanyakan pasangan.

mengapa kaktus tak seperti anggrek yang populasinya banyak ditemukan.
yang bahkan khasiatnya dapat menyembuhkan beberapa penyakit,
seperti anggrek hitam.

mengapa kaktus tak sewangi melati yang sering ditemukan di berbagai kejadian,
baik duka maupun suka,
dan malah baunya dipakai sebagai pengharum badan maupun ruangan.

atau mengapa kaktus tak seperti putri malu,
yang saat seseorang melihat,
buru-buru ingin menyentuh.

kenapa tak ada yang mengingat,
kalau kaktus punya cadangan air yang banyak.
dan fakta mengatakan air di dalam kaktus bahkan dapat memisahkan 98% bakteri dari air.

kalau saja kaktus terurus dengan baik,
diberi air dan diberi pupuk dengan rajin,

aku bertaruh demi semesta dan seluruh isinya,
tujuh tahun dengannya tak akan pergi dengan begitu saja.

kini kaktus kami sudah mati,
kering,
dan tak menghasilkan air lagi.

sama seperti aku dan dirinya yang berjalan sendiri-sendiri,
tanpa ada kaktus yang menjembatani.

Wednesday, 16 September 2015

16:17 - No comments

"sampai jumpa besok pagi, Ma!"

sembilan belas tahun bukan waktu yang singkat.
namun belum juga dapat disebut waktu yang panjang.
-bagiku, seorang yang menjunjung tinggi kenikmatan ibukota.-

sembilan belas tahun aku mengabdi pada kerasnya Jakarta.
mempertaruhkan segala kebahagiaan demi selembar kepuasan.
ternyata belum juga membuatku jera dan kapok.
aku masih haus akan materi dan harta.

tapi entah mengapa, pagi itu,
kira-kira tiga tahun yang lalu.
saat Naya, putri semata wayangku, mulai masuk Sekolah Dasar,
cukup melunturkan segala kerelatifitasan duniaku.

karena memang tak ada lagi satupun yang absolut di dunia.
yang ada hanya relatif.
hanya ada kata ‘tergantung situasi’.

“sampai jumpa besok pagi, Ma!”,
seru Naya yang membuyarkan lamunanku.

kujawab dengan senyuman simpul yang penuh banyak arti.
senyuman yang kutahu justru sebuah isakan.
senyum yang menggambarkan kepedihan jiwaku,
ketika darah dagingku hanya dapat kutemui di saat aku mengantarnya ke sekolah setiap pagi.

andai Naya tahu,
kalau Ibunya bukan seorang yang gila harta.
bukan juga seorang yang cinta akan uang semata.

andai Naya tahu,
aku sudah muak dengan harga diriku yang terus-terusan menaikan nilainya.

andai Naya tahu,
kalau sampai kapanpun, uang jauh lebih menang dari sebuah waktu yang tak bersatuan.

syukurnya, Naya tak tahu.
dan tak akan pernah kuberi kesempatan untuk tahu.
kalau Ibunya hanya seorang manusia yang melacurkan segalanya.

melacurkan waktu, melacurkan kebahagiaan, melacurkan masa depan,
melacurkan kemutlakan diri,
dan terlebih melacurkan putri semata wayangnya.

karna yang Naya tahu tentang mamanya hanyalah sebatas,
“sampai jumpa besok pagi, Ma."

Friday, 21 August 2015

19:19 - No comments

"kita memang tak cocok"

“Kita bukan lagi anak SMP yang sedang berpacaran, Gain!”,
teriak Changreul dengan lantang.

saat itu kulihat kedua bola matanya mulai meredup,

lanjutnya dengan penuh terbata-bata,
“Dan aku.. Aku melihatmu sebagai seorang pria dewasa.”
aku terdiam.
kutelan semua kata-katanya.
semua amarahnya.
dan segala luapan emosi maupun perasaannya.

walau aku tak mengerti dengan apa yang ia katakan.
namun entah mengapa, bulir-bulir kristal turun dengan sendirinya,
keluar dari tempat persembunyian.

tak begitu banyak memang,
tapi datang terus-terusan.
tak ada jeda.
tak ada spasi.
dan satu hal,
tak ada alasan baginya untuk berhenti.

“Kau tak percaya padaku kalau aku mencintaimu, Gain.” 
“Kau tak pernah yakin kalau aku akan menikahimu.” 
“Kau tak mencintaiku”,
dengan pilu dan terbata-bata Changreul mengucapkan semuanya.

kuberanikan diriku untuk mengangkat kepala dan mencoba melihatnya.
dan kurasakan, betapa menderitanya Changreul selama ini.

bibirku mulai menutup keras, namun hatiku berteriak sekuat tenaga,
kau tahu Changreul?
sejujurnya aku mencintaimu dengan setulus hatiku.
kau ingat saat kau menggenggam tanganku?
disitu hatiku berdegup tak karuan.
dan kau mulai merangkulku,
kurasakan jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.
waktu kau bercanda mencium pipi kiriku,
tiba-tiba pikiranku pergi entah kemana.
dan apa kau ingat, Changreul,
saat kau mencuri ciuman pertamaku,
sungguh,
aku tak dapat tidur bermalam-malam.

Changreul melihat ke arahku.
seperti ia merasakan ternyata ada banyak yang tak ia pahami.
seakan ia sadar,
kalau ternyata, aku juga menderita,
sama sepertinya.

“Kita mungkin tak cocok, Gain.”,
isakan Changreul pecah.

dan aku?
aku yang sedari tadi hanya melihatnya,
berpikir keras,
bertanya,
dan berdebat dengan segala harga diri yang selalu kupertahankan mati-matian.

Changreul berbalik.
meninggalkanku perlahan,
lambat, namun pasti.

tiba-tiba,

nampak,

diriku berlari ke arahnya,
memeluknya dari belakang,
dan membiarkannya menelanjangiku dengan segala kepuasan.
tapi Changreul tak bergeming, bahkan berbalik pun enggan rasanya.

sudah terlambat.
selesai.
mungkin memang kami tak cocok, seperti katanya.

dan akhirnya baru kusadari,

ternyata bukan harga diriku yang diinginkannya,
juga bukan kehormatanku sebagai wanita yang dibutuhkannya.

melainkan,
kepercayaan yang bukan pada umumnya,

serta keberanianku untuk memberikan segala-galanya.

"Kita memang tak cocok", isakku parau.

Thursday, 18 June 2015

16:18 - No comments

Ramadhan.

siang itu aku dan Erna tiba-tiba kebelet pipis bersamaan.
kira-kira jam 3an.
kami melangkah keluar ruangan dan menuju toilet di ujung lantai.

sepenglihatanku hanya ada aku dan Erna di sana.
toilet gedung kantor kami, di lantai 2, terdapat 6 buah pintu kamar mandi.

kami memutuskan untuk mencuci kedua tangan sebelum kami mengeluarkan cairan urin dari organ tubuh kami.

kebetulan saat itu, aku selesai duluan mencuci tangan di wastafel yang memang cukup sering menyala tanpa ada tangan untuk dicuci #kode.

6 pintu toilet terlihat kosong.
3 pintu saling berhadap-hadapan satu sama lain.

namun yang menarik perhatianku, ada 1 pintu pertama, tepatnya sebelah wastafel.
nampak tertutup, namun tidak terkunci.
karena kalau terkunci, akan ada tanda merah, artinya pintu tersebut dikunci.
tetapi yang terlihat adalah tanda biru.

tapi aku tak pikir panjang dan tak berniat memikirkan hal itu berkali-kali.
karena ada yang ingin buru-buru kukeluarkan dari lubang kehidupan ini #LOL.

aku memilih toilet persis di depan toilet yang nampak seperti terkunci itu.
dan masih terdengar Erna sedang mengeringkan tangannya.

karena pintu setiap toilet tidak sampai lantai, kira-kira sejengkal tangan terbuka.
jadi akan terlihat kaki-kaki orang yang lewat di depan toiletku.

beberapa detik kemudian…
satu..
dua..
tiga..

tiba-tiba ada yang keluar dari toilet persis di depan toilet yang kugunakan.
padahal seingatku pintunya tak terkunci.
dan sesaat orang itu keluar.
Erna menuju ke arah yang berlawanan.

aku melihat sepasang kaki yang keluar dari toilet persis depan toilet ku itu berjalan dan berpapasan dengan kaki Erna.

“mungkin ada cleaning service sedang membersihkan toilet sebrangku tadi.”

kemudian aku dengar suara orang sedang mencuci tangan dan mengeringkan tangannya.

“mungkin cleaning service tadi mencuci tangannya.”

kuperbanyak pikiran-pikiran yang positive.

dan setelah selesai, aku keluar dari toilet dan hendak membersihkan tangan.

“Er, tadi ada orang ya selain kita?”, tanyaku kepada Erna yang masih di toilet ketiga, persis di ujung.

“Kayanya ada deh Zra. Soalnya aku denger ada yang cuci tangan.”, sahut Erna sambil berjalan ke arahku hendak mencuci tangan bersama.

“Tadi ada orang yang keluar dari toilet itu ya?”, tanyaku.

“Ah engga ah, dari tadi toilet itu kosong!”, Erna menjawab.

“Tapi aku liat di kolong pintu, kaki kalian papasan”, kataku meyakinkan.

“Ah engga mungkin, dari tadi aku ga papasan sama siapa-siapa, aku mikirnya ada orang setelah aku masuk”, Erna mematahkan keyakinanku.

Kemudian kami seperti menemukan jawaban di tengah ribuan pertanyaan membanjiri otak kami.
Buru-buru kami menyelesaikan pencucian tangan-tangan ini.
Kami keluar tanpa mengeringkan kedua tangan.

Sambil tertawa penuh makna, meyakinkan diri kalau semua itu baik-baik saja.

“Mungkin karna mau puasa kali ya, Zra”, kata Erna saat kami sampai di ruangan kerja.

Bingung dengan kemungkinan Erna.
Namun sebelum ku bertanya padanya, ia buru-buru mencegatku,

“Soalnya kalo bulan puasa kan setan-setannya dikerangkeng, jadi puas-puasin dulu keluyurannya”, kata Erna sigap.


“HAHAHAHAHAHHAHAHA”, dengan kencang dan penuh kepuasan kami luapkan demi membayar kegetiran nyali kami di toilet tadi.


PS : Selamat Menunaikan Ibadah Puasa buat teman-teman yang merayakan. Ini kisah nyata loh, baru kemarin kejadiannya, fresh from the oven!